Babak baru langkah provokatif dan dominasi rezim Zionis Israel terhadap Masjid al-Aqsha telah dimulai. Puluhan personel militer rezim Zionis menyerang Masjid al-Aqsha dan mengibarkan bendera Israel di atas masjid untuk beberapa lama. Mereka juga mengibarkan bendera Israel di halaman masjid dan foto bersama di depan bendera tersebut.
Aksi penistaan tersebut menuai protes keras dari warga Palestina. Jamaah Masjid al-Aqsha bangkit dan memaksa militer Israel keluar dari lokasi masjid kemudian menurunkan bendera-bendera itu.
Sheikh Mohammad Husain, Mufti Baitul Maqdis, mengutuk keras pengibaran bendera Israel di halaman masjid dan menilai langkah tersebut sebagai tindakan dalam rangka memprovokasi kemarahan jutaan umat Islam di dunia.
Mufti Baitul Maqdis menambahkan, tindakan provokatif militer Israel itu menunjukkan bahaya yang mengancam bagi Masjid al-Aqsha dan identitas Islam. Hal itu juga sebagai tanda meningkatnya upaya penjajah untuk menguasai al-Aqsha.
Baitul Maqdis khususnya Masjid al-Aqsha selalu menjadi target serangan dan penistaan rezim Zionis guna mendominasi dan merusak tempat suci tersebut, bahkan tidak ada hari tanpa serangan dan konspirasi dari Israel.
Upaya Tel Aviv untuk mendominasi berbagai wilayah Palestina bertujuan memperluas Yahudisasi di wilayah-wilayah itu. Oleh sebab itu, Israel mengagendakan untuk terus menghancurkan rumah-rumah penduduk Palestina dan melenyapkan identitas Islam khususnya di Baitul Maqdis.
Serangan terhadap Masjid al-Aqsha dan konspirasi rezim Zionis terhadap tempat suci ini telah sampai pada tahap yang sangat membahayakan. Bahkan besar kemungkinan Israel akan melaksanakan programnya untuk merusak masjid tersebut.
Berlanjutnya penistaan terhadap Masjid al-Aqsha telah menimbulkan kekhawatiran
opini publik khususnya di negara-negara Islam. Lambannya sikap untuk mencegah aksi penistaan terhadap masjid tersebut dan tempat-tempat suci lainnya menyebabkan rezim Zionis semakin berani melanjutkan langkahnya.
Aksi penistaan itu sebagai bukti kebijakan rasialis Israel terhadap agama Samawi. Rakyat Palestina dan umat Islam sedunia menilai serangan bertubi-tubi dan penistaan terhadap Masjid al-Aqsa oleh Israel sebagai ancaman besar terhadap kiblat pertama umat Islam dan dunia Islam.
Sejarah rezim Zionis Israel selalu diwarnai dengan langkah brutal dan penistaan terhadap tempat-tempat umat suci umat Islam khususnya Masjid al-Aqsha. Salah satu penistaan tersebut terjadi pada tahun 2000, di mana Ariel Sharon dan pejabat-pejabat Zionis lainnya masuk ke dalam Masjid al-Aqsha.
Meski demikian, rakyat Palestina tidak pernah diam melihat aksi-aksi penistaan itu. Mereka selalu mereaksi keras langkah-langkah provokatif Israel. Intifada Quds muncul sebagai reaksi atas penistaan yang dilakukan Sharon pada tahun 2000.
Dalam kondisi ini, masyarakat internasional khususnya negara-negara Islam harus mengambil langkah tegas untuk mencegah penistaan terhadap tempat-tempat suci Islam khususnya Masjid al-Aqsha.





