KITA sudah paham betul kalau anak-anak Palestina setiap hari hidup di bawah ancaman Israel yang tidak main-main; nyawa menjadi tuntutannya. Sepanjang Operasi cast Lead Januri 2009, sedikitnya 500 orang meninggal karena serangan Israel.
Anak-anak itu wafat bukan karena salah tembak atau salah prosedur dari militer Israel, tetapi memang begitulah kekejaman Israel berlangsung. Anak-anak Palestina adalah target pembantaian Israel. Israel takut jika generasi Palestina menjadi kuat dan bertambah banyak, berbeda dengan rakyat Palestina, walaupun masih anak-anak tak pernah sedikitpun takut kepada Israel yang selalu menenteng dan mengokangkan senjata, kemana dan di mana saja.
Berlindung di bawah reruntuhan bekas serangan Israel pada tragedi berdarah Januari silam.
Namun fitrah mereka sebagai anak-anak tetaplah sama. Mereka juga bermain seperti biasa, dengan kesadaran penuh bahwa tentara Israel mungkin mengarahkan senjatanya kepada mereka.
Bagi mereka, mempertahankan rumah dan tanah mereka seperti ini bukanlah sesuatu yang menakutkan lagi. Begitulah, jika perjuangan akan tanah air dan agama sudah melekat sejak awal.
Seorang ABG Palestina digelandang para tentara Israel di sebuah stasiun atau terminal, seolah-olah ia adalah pesakitan dan pencuri. Sebenarnya siapa yang pencuri?
Kehilangan menjadi salah satu bagian anak-anak Palestina. Seorang kakak tengah mencium adiknya dengan penuh rasa sayang yang tewas karena biombardir Israel pada Operasi Cast Lead silam.
[sa/islampos/qmh)





