Mungkin yang ada di benak kita saat ini, sombong itu seperti orang yang suka pamer, suka membangga-banggakan diri dan sebagainya. Yah, tidak salah juga. Namun definisi sombong yang tepat ialah seperti apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Al-Kibr (Kesombongan) adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim)
Nah, itulah definisi yang tepat tentang kesombongan, bisa jadi karena menolak kebenaran, atau karena merendahkan (menganggap remeh) orang lain. Sifat sombong itu tersembunyi. Bisa jadi diri kita sendiri pun tidak mengetahuinya. Maka sepatutnya kita semua selalu mengintrospeksi diri kita sendiri, sebelum kita menilai orang lain.
Nah, itulah definisi yang tepat tentang kesombongan, bisa jadi karena menolak kebenaran, atau karena merendahkan (menganggap remeh) orang lain. Sifat sombong itu tersembunyi. Bisa jadi diri kita sendiri pun tidak mengetahuinya. Maka sepatutnya kita semua selalu mengintrospeksi diri kita sendiri, sebelum kita menilai orang lain.
Ada tiga (3) macam takabur atau kesombongan yaitu:
1. Takabur / sombong kepada Allah
Yaitu mengabaikan tidak menghiraukan terhadap atau tidak memperdulikan terhadap agama Allah, tidak takut kepada ancaman Allah serta meremehkan dan mengabaikan syari’at (peraturan) agama. Shalat, zakat, haji adalah perintah Allah SWT tapi dia dengan tidak ada perasaan berdosa meninggalkannya. Keadaan yang demikian telah disinyalir dalam firman Allah:
اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِىْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ (المؤمن : 60)
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina. (QS. Lukman :60)
2. Takabur terhadap Rasul
Yaitu enggan dan meerasa hina untuk mengikuti petunjuk Rasul, tidak sudi mengikuti Nabi Muhammad SAW. Sikap takabbur demikian ini banyak dimiliki kaum Quraisy dimasa Nabi. Sebab mereka sama anggapan bahwa beliau SAW. Anak Yatim yang tidak punya harta. Sedangkan beliau sebagai Rasulullah Saw. Begitu juga kebanyakan bangsa Yahudi segan mengikuti ajaran Rasulullah SAW, sebab mereka sama beranggapan, hanya bangsa Yahudillah yang berhak menerima kenabian. Dan sampai sekarangpun ada sementara manusia yang merasa hina melaksanakan perintah agama, ia menganggap bahwa perintah agama sudah usang dan kolot, merasa malu dengan memakai pakaian sholat pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat jama’ah, malu membawa serta membaca Al-Qur’a karena merasa dirinya sudah dewasa sehingga al-Qur’an ditinggal. Perasaan sombong inilah sangat berbahaya sekali, semoga kita terjaga dari sifat demikian ini.
1. Takabur / sombong kepada Allah
Yaitu mengabaikan tidak menghiraukan terhadap atau tidak memperdulikan terhadap agama Allah, tidak takut kepada ancaman Allah serta meremehkan dan mengabaikan syari’at (peraturan) agama. Shalat, zakat, haji adalah perintah Allah SWT tapi dia dengan tidak ada perasaan berdosa meninggalkannya. Keadaan yang demikian telah disinyalir dalam firman Allah:
اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِىْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَاخِرِيْنَ (المؤمن : 60)
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina. (QS. Lukman :60)
2. Takabur terhadap Rasul
Yaitu enggan dan meerasa hina untuk mengikuti petunjuk Rasul, tidak sudi mengikuti Nabi Muhammad SAW. Sikap takabbur demikian ini banyak dimiliki kaum Quraisy dimasa Nabi. Sebab mereka sama anggapan bahwa beliau SAW. Anak Yatim yang tidak punya harta. Sedangkan beliau sebagai Rasulullah Saw. Begitu juga kebanyakan bangsa Yahudi segan mengikuti ajaran Rasulullah SAW, sebab mereka sama beranggapan, hanya bangsa Yahudillah yang berhak menerima kenabian. Dan sampai sekarangpun ada sementara manusia yang merasa hina melaksanakan perintah agama, ia menganggap bahwa perintah agama sudah usang dan kolot, merasa malu dengan memakai pakaian sholat pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat jama’ah, malu membawa serta membaca Al-Qur’a karena merasa dirinya sudah dewasa sehingga al-Qur’an ditinggal. Perasaan sombong inilah sangat berbahaya sekali, semoga kita terjaga dari sifat demikian ini.
3. Takabur terhadap sesama manusia
Yakni merasa lebih mulia, lebih terhormat, lebih agung, lebih tinggi, lebih benar, lebih kaya, lebih cantik, lebih bahagia, lebih kuat, lebih baik dari orang lain. Ia menganggap remeh dan hina serta menganggap orang lain tidak berharga sama sekali dibanding dirinya sendiri. Ia menjadi gila hormat, gila pujian, dan lupa daratan sehingga tidak suka ditegur, tidak mau menerima pandangan dari orang lain walaupun pandangan atau nasehat itu benar.
Sifat Takabur atau sombong merupakan penyakit yang sangat berbahaya bagi pemiliknya, karena orang yang terjangkit penyakit ini maka hidupnya akan menjadi hina.
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi Muhammad SAW, Beliau bersabda:
اَلْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ ( رواه مسلم )
“Artinya:” Takabur itu menolak kebenaran dan menghinakan hak-hak manusia. (HR. Muslim)
Kaum Muslimin rahimakumullah…
Bagaimana untuk menghindari dari sifat takabur atau sombong ini?
Untuk menghindari sifat sombong itu kita harus berlaku lunak dalam pergaulan. Sering-seringlah menengok para tetangga terutama yang sering ketimpa kesusahan, ikut mengantarkan jenazah, suka berkumpul dengan orang miskin, suka bertegur sapa sesama umat Islam, ringan kaki mendatangi undangan, adanya kesadaran diri bahwa hidup ini tidak bisa sendiri satu sama lain saling membutuhkan. Kalau kita ditakdirkan jadi orang kaya karena memang adanya orang miskin, dan mereka butuh tenaga mereka untuk menggarap semua sawah-sawahnya dan lain sebagainya.
Rasulullah SAW bersabda:
تَوَاضَعُوا وَجَالِسُوْا المَسَاكِيْنَ تَكُونُوْا مِنْ كِبَاِراللهِ وَتُخْرِجُوْا مِنَ الكِبْرِ (رواه ابو نعيم)
Artinya:”Tawadlu’lah kalian, duduk-duduklah kalian dengan orang-orang miskin, pasti kalian menjadi orang besar disisi Allah dan terbebas dari kesombongan (HR. Abu Mu’aim)
Allah juga berfirman dalam Al-Qur’an:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِى فِى اْلاَرْضِ مَرَحًا اِنَّ اللهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍ. (لقمان : 18)
Artinya:” Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang sombong lagi membanggakan diri ((QS. Luqman : 18)
بارك الله لي ولكم فى القرأن العظيم ونفعنى واياكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم وتقبل مني ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم أقول قولى هذا واستغفروا الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات . فاستغفروه . انه هوالغفور الرحيم..
Tidakkah kita takut dengan ancaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa tidak akan masuk surga bagi pelaku kesombongan? Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kibr (kesombongan) seberat dzarrah.” (HR. Muslim)
Lihatlah perkataan para ulama salaf tentang kesombongan. Abu Wahab Al-Marwazi berkata, aku pernah bertanya kepada Ibnul Mubarak, ‘Apa yang dimaksud dengan al-Kibr?’ Beliau menjawab, “Melecehkan orang lain.” Aku lalu bertanya tentang ujub. Beliau menjawab, “Perasaan bahwa kita memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain, aku tidak mengetahui sesuatu yang lebih berbahaya daripada ujub bagi orang-orang yang shalat.”[1]
Ingatlah, bisa jadi seseorang yang melakukan amal kebajikan, namun ia ujub dengan amalannya tersebut, maka itu menjadi salah satu sebab gugurnya amal kebajikan tersebut. Namun bisa jadi seseorang melakukan amal keburukan, tapi ia menyesal dan merasa takut karena dosa tersebut, boleh jadi Allah berikan ampunan dan mencatatkan amalan kebajikan padanya.
Barangsiapa yang mencari ilmu untuk diamalkan, ia akan diluluhkan oleh ilmunya, dan akhirnya menangis menyadari kekurangan dirinya.





